Artikel/ Makalah
Asfiksia Perinatal Sebagai Faktor Resiko Gangguan Pendengaran Pada Anak
Written by Sukri Rahman, Hanifatryevi   
Wednesday, 17 October 2012 00:00
PDF Print E-mail
Sukri Rahman, Hanifatryevi
Abstrak
Latar belakang : Asfiksia adalah keadaan di mana tubuh atau bagian tubuh kekurangan oksigen. Jika kondisi ini terjadi pada bayi baru lahir disebut juga dengan asfiksia perinatal, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan secara permanen maupun bersifat sementara. Salah satu gejala sisa yang sering terjadi pada asfiksia perinatal adalah gangguan pendengaran sensorineural. Tujuan : Makalah ini akan membahas tentang mekanisme gangguan pendengaran akibat asfiksia, deteksi dini gangguan pendengaran dengan pemeriksaan Brain Evoked Response Auditory (BERA) dan Otoacoustic Emissions (OAE). Kesimpulan : Gangguan pendengaran akibat asfiksia dapat terjadi akibat beberapa mekanisme diantaranya terjadinya hiperpolarisasi, pelepasan glutamat dan gangguan proses apoptosis. Kelainan ini terlihat pada gambaran BERA dan OAE , dimana terjadinya peningkatan masa laten dan interval gelombang yang bersifat sementara atau menetap, serta ditemukan gangguan pada fungsi koklea bayi dengan asfiksia perinatal terutama pada frekuensi 1-5 kHz yang terdeteksi pada hari ketiga sampai hari kelima kelahiran, dan terdapat perbaikan pada usia 1 bulan. Artikel Lengkap
Kata Kunci : Asfiksia perinatal, gangguan pendengaran, BERA, OAE
Last Updated ( Wednesday, 17 October 2012 00:28 )
 
Application Of Plates And Screws In Reconstruction Of Multiple Maxillofacial Fractures
Written by Jacky Munilson, Effy Huriyati, Rossy Rosalinda   
Tuesday, 03 April 2012 09:49
PDF Print E-mail
Jacky Munilson, Effy Huriyati, Rossy Rosalinda

Abstract
The maxillofacial region is vulnerable to an injury and account for a significant proportion of visits to emergency departments. Road traffic accident, especially motor vehicle accident still remains the commonest cause of these injuries. Maxillofacial fractures are diagnosed clinically and confirmed radiologically. The treatment choices of maxillofacial fractures include observation, closed reduction and open reduction with internal fixation. In general, any displaced fracture should be treated by open reduction which can be accomplished via sublabial and/or transconjunctival approach depending on the extent of fractures.
A case of multiple maxillofacial fractures was reported in a 19-years old man and have been done reconstruction of fractures by open reduction via sublabial approach and internal fixation with plates and screws application. Artikel Lengkap

Key words: Maxillofacial fractures, open reduction, sublabial approach, internal fixation, plates and screws

 
Penatalaksanaan Tumor Ganas Mesenkimal Laring pada Anak
Written by Sukri Rahman, Bestari Jaka Budiman, Rossy Rosalinda   
Tuesday, 03 April 2012 09:46
PDF Print E-mail

Sukri Rahman, Bestari Jaka Budiman, Rossy Rosalinda


ABSTRAK
Tumor ganas laring jarang terjadi pada anak. Oleh karena rendahnya kecurigaan terhadap penyakit ini dan relatif sulit untuk menghadapi anak selama pemeriksaan laring, tumor ganas laring pada anak seringkali terlambat didiagnosis. Biasanya pasien terdiagnosis pada stadium lanjut. Terapi tumor ganas laring pada anak masih merupakan suatu tantangan dan berbeda-beda berdasarkan jenis tumor. Pembedahan merupakan pilihan terapi utama untuk tumor ganas mesenkimal sedangkan radioterapi dan kemoterapi tidak memberikan manfaat untuk jenis tumor ini. Oleh karena terdapat masalah dalam berbicara setelah tindakan pembedahan, dibutuhkan suatu rehabilitasi suara pada pasien dengan tumor ganas laring.
Satu kasus fibrohistiositoma tipe angiomatoid laring dilaporkan pada anak laki-laki usia 12 tahun dan telah dilakukan tindakan laringektomi total serta direncanakan untuk rehabilitasi suara. Artikel Lengkap

Kata Kunci: Tumor ganas laring pada anak, fibrohistiositoma laring, laringektomi total, rehabilitasi suara

Last Updated ( Tuesday, 03 April 2012 10:08 )
 
Kista Dermoid Submandibula
Written by Bestari J. Budiman, Dedy Rusdi   
Saturday, 10 March 2012 22:17
PDF Print E-mail

Bestari J. Budiman, Dedy Rusdi

Abstrak
Kista dermoid merupakan massa kistik subkutan yang terdiri dari epitel dan struktur adneksa. Secara histopatologi terdiri dari 3 jenis yaitu kista epidermoid, dermoid dan teratoid. Penatalaksanaan kista dermoid pada dasar mulut tergantung manifestasi klinis dan lokasi kista, berupa ekstirpasi kista dengan berbagai pendekatan, baik intraoral, ekstraoral maupun kombinasi keduanya. Dilaporkan satu kasus kista dermoid submandibula pada laki-laki usia 30 tahun yang ditatalaksana dengan ekstirpasi kista dengan pendekatan ekstraoral. Makalah Lengkap


Kata kunci:
Kista dermoid, submandibula, pendekatan ekstraoral

Last Updated ( Thursday, 11 October 2012 07:08 )
 
Operasi Mastoid Revisi pada Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya
Written by Jacky Munilson, Tuti Nelvia   
Saturday, 10 March 2012 22:16
PDF Print E-mail

Jacky Munilson, Tuti Nelvia

ABSTRAK
Operasi mastoid berkembang sebagai penanganan terhadap Otitis Media Supuratif Kronik
(OMSK). Operasi mastoid revisi dilakukan bila tujuan operasi pertama tidak tercapai. Kegagalan operasi
mastoid bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya penanganan air cell yang tidak adekuat, facial ridge
yang tinggi, kegagalan membuang semua kolesteatom, meatoplasti yang tidak adekuat dan ketidakpatuhan
pasien untuk kontrol setelah operasi. Operasi mastoid revisi biasanya lebih sulit dan berbahaya karena
anatomi telinga tengah bisa tidak jelas, landmark dapat hilang dan struktur berbahaya dapat dikenai.
Dilaporkan satu kasus operasi mastoid revisi pada seorang laki-laki berumur 25 tahun, yang ditatalaksana
dengan timpanomastoidektomi dinding runtuh .Makalah Lengkap


Kata kunci :
Otitis media supuratif kronik, operasi mastoid revisi, kolesteatom, meatoplasti.

Last Updated ( Wednesday, 17 October 2012 00:15 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 17

Simposium & Workshop Emergensi di Bidang THT

Universitas Andalas