Pendidikan PDF Print E-mail

Bagian THT-KL Fakultas kedokteran Universitas Andalas (UNAND) Padang merupakan sentra Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) THT-KL disamping juga mendidik Pendidikan dokter Umum.

 

I. PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS                            

Ketua Program Studi         : Dr. Yan Edward, Sp.THT-KL(K)

Sekretaris Program Studi   : Dr.Sukri Rahman, Sp.THT-KL


 

DAFTAR PESERTA PPDS THT-KL UNAND

VISI DAN MISI

A. VISI

Menjadi salah satu pusat Pendidikan Dokter Spesialis THT-KL yang terkemuka dan bermartabat di Indonesia tahun 2020

B. MISI

Pendidikan

Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan yang berkualitas dan berkesinambungan sehingga dapat menghasilkan tenaga dokter spesialis THT-KL yang profesional serta bermoral tinggi

Penelitian

Melaksanakan penelitian dalam mengembangkan Ilmu Kesehatan THT-KL sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran (Iptekdok)

Pengabdian Masyarakat

Melaksanakan pelayanan kesehatan THT-KL dan pengabdian masyarakat yang berkualitas

Melaksanakan pelayanan kesehatan THT-KL dan pengabdian masyarakat yang berkualitas

 

TUJUAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER ( T H T - K L )

A. Tujuan Umum

Tujuan umum Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan THT-KL FK Unand adalah menghasilkan dokter spesialis THT-KL yang mempunyai kompetensi profesional sebagai seorang dokter spesialis THT-KL sehingga mampu memberikan pelayanan Kesehatan di bidang THT, yang terbaik, serta memiliki kompetensi akademik sehingga mampu meneliti, mengembangkan dan menyebarkan Ilmu Kesehatan THT-KL sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang ditunjang oleh penguasaan Ilmu Kedokteran Dasar yang baik.

B. Tujuan Khusus

Tujuan khusus Program Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan THT-KL adalah menghasilkan Dokter Spesialis THT-KL dengan Kompetensi Akademik yang diharapkan,

1. Mampu menerapakan prinsip dan metode ilmiah dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan klinik berbasis bukti (evidence based medicine).

2. Mampu mengenal, menyelesaikan dan menyususn prioritas masalah Kesehatan THT-KL secara ilmiah melalui perencanaan dan evaluasi terhadap upaya pencegahan, pengobatan peningkatan Kesehatan dan rehabilitasi

3. Menguasai pengetahuan dan keterampilan serta selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran

4. Mampu menangani kasus THT-KL dengan kempuan profesional yang baik melalui pendekatan kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine)

5. Mampu meningkatkan kualitas penelitian dasar, penelitian klinik dan mempunyai motivasi mengembangkan diri untuk mencapai tingkat akademik yang lebih tinggi.

6. Mampu mengorganisasi pelayanan Kesehatan di bidang THT-KL dalam suatu Rumah Sakit atau Fakultas Kedokteran sehingga menjadi pusat pelayanan Kesehatan terkemuka dengan profesionalisme yang tinggi.

7. Memahami sistem pendidikan dan mampu mengajarkan ilmu yang didapatkan kepada mereka yang membutuhkan

8. Terampil dalam memberikan pelayanan Kesehatan pada masyarakat yang membutuhkan

9. Mampu mengembangkan dirinya untuk kehidupan profesional sesuai dengan kode etik kedokteran dan kode etik THT-KL pada khusunya

10. Menjunjung tinggi kode etik kedokteran dan kode etik THT-KL dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

JALUR PENERIMAAN PESERTA PPDS DALAM PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER SPESIALIS-1 ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK FK UNAND

Informasi Lengkap dapat dilihat di: website TKP PPDS FK Universitas Andalas

PENERIMAAN CALON PESERTA PROGRAM STUDI

Calon peserta PPDS Ilmu Kesehatan THT-KL FK UNAND harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

·         Memiliki ijazah Fakultas kedokteran Negeri atau Ijazah Negara bagi lulusan Fakultas Kedokteran Swasta

·         Sudah menunaikan tugas wajib sarjana (dokter PTT di Departemen Kesehatan) atau tunda wajib sarjana (Non PTT)

·         Calon PPDS dari pegawai Negeri Sipil Departemen Kesehatan dan TNI/Polri harus disetujui Departemen Kesehatan, dan bagi dokter PNS pasca PTT harus mendapat persetujuan dari Sekjen Departemen Kesehatan.

·         Calon PPDS dari swasta perorangan dan Departemen lain dapat  mendaftar langsung.

·         Calon peserta harus memenuhi persyaratan seleksi administratif dan seleksi akademik.

SELEKSI ADMINISTRATIF

Calon peserta PPDS harus mempunyai kelengkapan administratif sbb:

·         Surat permohonan dari yang bersangkutan.

·         Rekomendasi dari Kanwilkes setempat/sertifikat tunda atau selesai masa bakti (SMB)

·         Foto copy NIP/KARPEG (bagi dokter PNS).

·         Surat pernyataan bersedia ditempatkan sesuai dengan program Depkes setelah selesai pendidikan spesialis (bagi Dokter PNS pasca PTT).

·         Surat keputusan pengangkatan dari R.S. Swasta / BUMN (bagi dokter pasca PTT R.S. Swasta/BUMN.

·         Daftar Riwayat hidup

SELEKSI AKADEMIK

Calon peserta PPDS yang memenuhi persyaratan administratif akan mendapat surat panggilan dari KPS/SPS Ilmu Kesehatan THT-KL FK UNAND untuk mengikuti seleksi administrasi.

Penyelenggaraan Seleksi Akademik

KPS/SPS Ilmu Kesehatan Telinga Hidung tenggorok FK UNAND/ RS. Dr. M. Djamil menentukan jadwal seleksi. Seleksi Akademik yang harus diikuti oleh calon peserta PPDS adalah sbb:

·         Ujian teori dasar tentang Imu Kesehatan THT-KL (tulis /MCQ)

·         Wawancara oleh staf pengajar lmu Kesehatan THT-KL FK UNAND/RS. Dr.M. Djamil.

·         Psikotes

·         Pemeriksaan Kesehatan umum oleh majelis Penguji Kesehatan (MPK) R.S.Dr. M.Djamil.

·         Pemeriksaan Kesehatan khusus oleh Sub Bagian  Neurotologi THT-KL FK UNAND/ RS.Dr.M. Djamil.

·         Nilai TOEFL bagian dari penentu kelulusan

·         Tes kemampuan menggunakan Komputer dan internet dilaksanakan oleh Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL/RS.Dr.M.Djamil.

Rapat penentuan penerimaan PPDS dilakukan oleh ketua Bagian dan staf pengajar Ilmu Kesehatan THT-KL FK UNAND/ RS. Dr. M.Djamil.

Calon peserta yang lulus ujian seleksi masuk dilaporkan ke TKP PPDS dengan tembusan ke dekan FK UNAND untuk penyelesaian adminisratif.

PPDS yang tidak lulus ujian seleksi masuk diberikan kesempatan mengikuti ujian seleksi lagi.

Prosedur dan alur proses seleksi dapat dilihat pada bagan berikut :

 

 

TAHAP PENDIDIKAN

Program pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan THT-KL di bagidalam 3 tahap yaitu Tahap Prakualifikasi, Tahap Magang, dan Tahap Mandiri. Masing-masing tahap mempunyai tujuan pendidikan yang harus dicapai melalui pengalaman belajar tertentu.

Tahap pendidikan yang dimaksud bukan merupakan pembagian berdasarkan tahun tetapi pembagian berdasarkan tingkat kegiatan (silabus) pendidikan yang dicapai.

Lama pendidikan  8 semester (4 tahun).

METODA

Metodologi dan penatalaksanaan Pendidikan

PPDSp-1 Ilmu Kesehatan THT-KL merupakan program pendidikan yang menggunakaan sistim kredit dengan beban studi diukur dengan satuan kredit semester(SKS). Beban studi adalah sebesar 100 SKS dan dilaksanakan dalam 8 (delapan) semester.

Sistim pembelajaran dilakukan dengan cara Diskusi, bimbingan, belajar aktif, mandiri, berorientasi pada pemecahan masalah.

Kompetensi yang akan dicapai adalah kompetensi yang didukung oleh dasar akademik yang baik danpelatihan keprofesian dilakukan secara terintegrasi dan berkesinambungan.

Pentahapan Program Pendidikan

Pentahapan program pendidikan dilakukan dalam 3  (tiga) tahap yaitu:

1.    Tahap prakualifikasi

2.    Tahap Magang

3.    Tahap Mandiri

Tahap I. Prakualifikasi (1 Semester, Semester  I )

Tujuan Pendidikan

Untuk menentukan apakah peserta PPDS mampu melanjutkan pendidikan dalam Program Pendidikan THT-KL. Bila peserta tidak lulus pada tahap I, diusahakan untuk disalurkan ke Program Studi lain yang sesuai melalui Tim Koordinat PPDS Fakultas.

Tujuan Khusus

1.    Menguasai pengetahuan dasar kelainan dan penyakit THT-KL

2.    Menguasai teori klinik umum dan keterampilan memerikasa, menentukan pengobatan dan menetapkan indikasi tindakan/ operasi

3.    Memhamai teknik, cara-cara mengatasi keadaan darurat dibidang THT-KL

4.    Memahami prinsip bedah umum, sterilitas, persiapan pra bedah dan perawatan pasca bedah

5.    Memahami metodologi penelitian dasar

Tahap II & III.  Magang (6 Semester, Semester II-VII)

1.    Menguasai pengetahuan klinik khusus THT-KL

2.    Menguasai keterampilan, memeriksa dan mengobati penderita di poliklinik Sub-Bagian dan menentukan indikasi operasi

3.    Menguasai keterampilan, melakukan operasi ringan dan sedang Sub-Bagian tersebut

4.    Mampu menyususn karangan ilmiah dari masalah yang ada di Sub-Bagian, dengan pengalaman belajar yang diperoleh dari hasil tinjauan pustaka serta mampu memperesentasikannya dibidang ilmiah

5.    Mengetahui teori dasar penelitian dan penulisan tesis

6.    Melakukan pelayanan THT-KL di klinik

7.    Melakukan pendidikan untuk tingkat paramedik

8.    Mengetahui dan memahamai teknik anestesi yang berhubungan dengan biadang THT-KL

9.    Mengetahui dan memahami hasil pemeriksaan radiologi yang berhubungan dengan bidang THT-KL

10. Menyiapkan usulan penelitian

Tahap IV.  Mandiri  ( 1 Semester, Semester VIII )

1. Melakukan pelayanan kesehatan THT-KL serta pelayanan klinik khusus THT sosial

2. Membantu Pendidikan Mahasiswa Kedokteran (S1)

3. Menyajikan Tesis Akhir

 

II. KEPANITERAAN KLINIK THT-KL

Koordinator Pendidikan : Dr. Al Hafiz, Sp. THT-KL

 

METODE / KEGIATAN  KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN THT-KL

Setelah mendapat pengarahan dari Kepala Bagian dan Kodik, mahasiswa akan menerima buku modul yang berisi penyakit-penyakit  dan keterampilan klinik THT-KL  yang harus mereka dapat dan kuasai selama mengikuti kepaniteran klinik THT-KL. Buku log akan memuat data pencapaian objektif pendidikan mereka  dan data pengalaman dan kompetensi peserta. Kelengkapan pencapaian target merupakan persyaratan untuk mengikuti ujian akhir.

Selama mengikuti pendidikan mahasiswa mempelajari berbagai aspek yang berhubungan dengan pengelolaan penyakit pasien, keluarga dan masyarakat menitik beratkan pada pelatihan keterampilan klinik, etika dan evidence-based medicine sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan. Mahasiswa selama kepaniteraan klinik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10 orang perkelompok.

Tiap kelompok akan difasilitasi oleh 2 orang preseptor per minggu yang telah ditetapkan oleh bagian, setiap hari masing-masing kelompok dibimbing oleh preseptor berupa tatap muka selama 2 jam setiap hari 5 kali dalam satu minggu, diluar itu mahasiswa mengikuti kegiatan yang diatur oleh bagian yang dibimbing oleh nonpreseptor. Preseptor akan bertindak sebagai role model untuk aspek bioetika dan humaniora dan bertugas selama siklus.

Kegiatan Preseptor berupa :

Jam 07.30-09.00 atau 11.30 – 13.00  : kegiatan ilmiah ( BST, CRS, CSS )

  • BedsideTeaching (BST)    3 x seminggu
  • Clinical Report Session (CRS)   1 x seminggu
  • Clinical Scientific Session (CSS)   1 x seminggu
  • Temu pakar (meet the expert)  1 x seminggu
  • Jam 09.00-11.30  bimbingan poliklinik, UGD, OK (Kamar Operasi)

 

Introduksi (pengayaan) di Bagian diberikan pada saat awal mahasiswa melapor dengan membawa surat pengantar dari Sub Program Profesi.

Mengenalkan pada setiap mahasiswa tentang :

  • Prosedure kepaniteraan klinik di bagian yang bersangkutan, tata tertib dan aturan dibagian yang harus diketahui oleh masiswa.
  • Bimbingan melakukan  Fisik diiagnostik dan cara membuat status dan pemakaian alat
  • Prosedure klinis dan keterampilan klinis yang perlu dikuasai selama mengikuti kepaniteraan klinik dibagian tersebut
  • Mendapatkan Buku Pedoman Keterampilan kilnis dan Buku Log
  • Berkenalan degan seluruh staf pengajar dan paramedis di bagian, poliklinik dan kamar operasi

 

Bed Side Teaching (BST)

Berupa kegiatanpembelajaran mahasiswa dengan mengunakan pasien yang langsung di fasilitasi oleh preseptor untuk melatih proses berfikir dan keterampilan pemecahan masalah mereka dalam penatalaksanaan pasien. Kegiatan ini dapat dimulai pada minggu pertama siklus.

Dilaksanakan 3 kali dalam 1 minggu, ada 24modul yang akan diberikan selama siklus dibagian besar. Untuk batuk gian kecil ada 12 modul yang akan diberikan.

Beside teaching diberikan selama 2 jam dibawah bimbingan preseptor yang telah ditentukan untuk setiap kelompok.

Setiap Bed Side Teaching peserta harus melakukan kegiatan berupa:

-          Anamnesis, fisik Diagnostik dan dipresentasikan. Kegiatan ini dilakukan oleh 2 orang peserta dari masing-masing kelompok, disaksikan oleh Presptor dan peserta dalam kelompok yang sama.

-          Sebelumnya para mahasiswa telah mendapat pengarahan dari Preseptor yang bersangkutan

-          Anamnesis dan pisik diagnostik dapat dilakukan diruang pasien seperti ruang rawat inap, unit gawat darurat, poliklinik atau ruangan operasi

-          Dibuat statusnya dalam 1x24 jam, diperiksa oleh preseptor dengan bantuan residen.

-          Setelah itu mahasiswa akan mempresentasikan dan diskusi diakukan di ruangna dengan kelompok dan preseptor yan bersangkutan

-          Komponen penilaian (untuk presentan dan audience) sesuai buku log yang sudah disediakan

-          Preseptor menandatangani buku kegiatan

-          Materi yang diberikan sudah ditentukan dari modul yang telah ditetapkan bagian

 

Case Report Session (CRS)

Kegiatan yang berupa laporan kasus hasil pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien yang dimulai pada minggu pertama siklus

Dilakukan 1 kali dalam seminggu, selama 2 jam, ada 8 kali CRS selama siklus dibagian besar 4 kali CRS pada siklus kecil.

Setiap Case Report Session terdiri dari :

-          Anamnesis, Pemerikasaan fisik diagnostik dan presentasi dilakukan oleh 1 sub kelompok yang terdiri dari 3-4 orang

-          Anamnesis dan pemerikasaan fisik dilakukan di ruang pasien dapat berupa ruang rawat inap, UGD, Poliklinik dan tidak dihadiri Preseptor

-          Presentasi dan diskusi dilakukan diruang kuliah dan dihadiri Preseptor dan peserta dari kelompok yang sama

-          Komponen penilaian untuk presentan dan audience disesuai dengan buku log yang sudah dibuat dibagian masing-masing

-          Preseptor menandatangani buku setiap selessai suatu kegiatan dan diperiksa waktu dan lama kegiatan

-          Materi yang diberikan dapat berasal dari kasus BST, penyakit yang jarang, penyakit yang memiliki implikasi berat, penyakit yang tidak termasuk dalam modul tetapi penting untuk diketahui oleh peserta

 

Clinical Science Session (CSS)

Merupakan diskusi ilmiah yang dilakukan tentang salah satu topik berhubungan dengan masalah pasien. Kegiatan dapat di mulai pada minggu pertama siklus. Kegiatan dilaksanakan 1 kali seminggu  selama 2 jam, ada 8 kali Clinical Science Session selama siklus dibagian Clinical Science Session pada siklus kecil.

Setiap kegiatan Clinical Science Session terdiri dari :

-          Masalah pasien yang dapat diambil dari modul yang belum dibahas atau dari learning issue yang timbul pada saat BST atau CRS, sebaiknya berdasarkan Evidence Based, dari Journal-journal terbaru. Setiap kegiatan dilakukan oleh 1 sub kelompok yang terdiri dari 3-4 orang mahasiswa

-          Presentasi dan diskusi dilakukan di ruangan, dihadiri Preseptor dan peserta dalam kelompok yang sama

-          Komponen penilaian (untuk presentan dan audience) sesuai dengan buku log yang sudahdibuat pada masing-masing bagian

-          Preseptor menandatangani setiap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa

 

Meet The Expert (MTE)

Berupa pertemuan mahasiswa dengan dosen atau  staf pengajar yang telah ditentukan oleh bagian.

-          Kegiatan dilaksanakan 1 x seminggu, dinilai pada minggu pertama siklus

-          Kuliah dari expert/ professor atau staf pengajar yang expert dibagiannya

-          Materi diambil dari hal yang dianggap penting dan yang harus dikuasai peserta yang tidak termasuk dalam modul yang telah ditetapkan, learning issue dari BST, CRS, CSS atau yang  belum sempat dibicarakan

Selama mengikuti kepaniteraan klinik, mereka mempunyai keterampilan klinis. Keterampilan adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. Dalam melaksanakan praktek dokter, lulusan dokter perlu menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis maupun menyelesaikan suatu masalah kesehatan. Keterampilan klinis ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter.

 

 

 

 

World Head and Neck Cancer Day 2016

Universitas Andalas